Rabu, 07 Agustus 2019

Jika nanti ada kehidupan baru, ijinkan dia menjadi takdir saya.

Mari kita mulai malam ini.
Maafkan aku sudah sekian purnama tidak berkunjung kesini, lebih tepatnya semenjak terhapusnya segala memori tentang dia yang tak berhati.
Tidak sepenuhnya memang, tapi semakin hari aku semakin baik. Bersyukur teramat sangat ketika Tuhan mematahkan hatiku. Berulang kali aku berterimakasih telah membuka mata, pikiran bahkan logika ku yang sempat macet saat itu kini sudah jauh lebih membaik.

Masih ada rasa cemas, khawatir hal itu akan terjadi lagi biarpun dengan sosok yang berbeda. Aku tak menepis ketakutan itu adakalanya datang menghampiri, membuat pikiranku mengingat apa yang sudah lewat kemarin. Tujuanku hanya ingin bertemu dia yang memang bisa menerimaku, terlebih dengan segala kekurangan yang kupunya.

Beberapa minggu lalu aku bertemu dengan seorang pria yang sebetulnya sudah lama aku kenal, hanya saja ketidak pedulianku dulu dengan orang sekitar yang teramat sangat karena terlalu asyik degan aktivitas ku sendiri. Jahat memang ku pikir, kenapa baru sekarang aku bertemu denganmu, kenapa tidak dari dulu saja agar hatiku baik-baik saja semenjak denganmu.
Aku tak mau mengharap lebih, yang ku tau teman wanita mu tidak mungkin hanya 1 atau 2, yang menginginkan mu juga tidak mungkin hanya 1 atau 2, sudah pasti pengagummu banyak.
Saat ini aku hanya nyaman bisa berteman denganmu, bercerita hal yang ringan, bisa membuat tertawa yang aku saja hampir lupa bagaimana caranya menghidupkan letupan kecil saat kita berjumpa walau hanya via whatsapp.
Aku tau kamu tidak akan membaca ini, tapi aku membawa namamu hampir disetiap malam saat ku berbincang dengan Tuhan, tak apa untuk saat ini aku tak bisa memilikimu, tidak bisa menyayangi secara langsung, mungkin dari kejauhan aku bisa melihatmu. Tapi tak henti aku meminta dengan meminjam namamu disepertiga malam dengan basah dipipi jika nanti ada kehidupan baru, ijinkan dia jadi takdir saya.


Pontianak, 07 August 2019
-A.S-

Rabu, 29 Mei 2019

Kalau kamu bisa menemukan bahagiamu, apalagi aku :)

28 MEI 2019
Baru pertama kalinya seumur hidup, ditemukan dengan manusia yang tak pandai menghargai.
Maaf aku tak akan menceritakan detailnya, karena tak ada gunanya juga.
Begini, saat 12 April 2019 lalu, ntah kenapa aku harus lebih kuat dari biasanya, aku harus lebih tangguh dari biasanya, pundakku harus lebih kokoh dari biasanya, otakku harus lebih bekerja keras dari biasanya. Amarah yang seharusnya bisa ku lepas sudah tak kuasa ku tahan tapi tetap harus ku tahan, aku bisa saja meledak bak granat, tapi untuk apa? Aku tak mahir dalam meluapkan emosi, aku tak pandai dalam mengungkapkan. Aku bisa sedikit terbuka dengan jemariku disini.

Sejak hari itu, perasaan marah, kesal, sesak, tak rela, sedih, bingung, semua jadi satu. Aku tak paham apa rencana Tuhan setelah ini, aku yakin pasti lebih baik dari ini. 42 bulan aku mengenalnya, separuhku ada apanya, dengan segala daya upaya yang ku usahakan untuknya selalu, tak ada dalam kamusku menyerah, tak ada dalam kamusku untuk berhenti, apalagi mengkhianati. Tapi Tuhan tau apa yang sebetulnya aku butuhkan, yang selama ini aku anggap baik ternyata tak baik dimata Tuhan.
Dia tak baik untukku.

Benar Tuhan mendengar apa yang sering kuceritakan setiap kali dalam sujud, aku ingin hatimu lembut tak sekeras ini, aku ingin kamu bisa bertutur kata lembut dan memperlakukan perempuan dengan hati-hati, aku ingin amarahmu tidak meledak-ledak ketika kita sedang dalam selisih paham, aku ingin Tuhan memudahkan langkahmu ntah itu kita sedang dalam kota yang sama ataupun berbeda, aku ingin menjadikan diriku sendiri yang bisa diandalkan olehmu, aku ingin tak habis-habisnya berusaha untuk kita berdua. Tapi Tuhan menjawab doaku dengan cara yang lain, Tuhan membuka mataku bahwa nama yang sering kusebut bukan orang yang tepat buatku.

Harusnya aku sadar sedari awal, sinyal-sinyal tak baik seharusnya aku bisa menangkapnya.
Tak tulus, iya, aku menyebutnya tidak tulus, semua yang sudah lewat masih terus dibicarakan, semua yang sudah terjadi masih menyalahkanku.
Perihal orang tua, harusnya aku sadar dari awal bahwa tak diterimanya aku disana tapi dasar aku yang keras kepala masih saja berusaha untuk mengunjungi mereka.
Mendua, untuk hal ini aku tak menyangka sama sekali. Rasanya seperti separuh nyawaku hilang, remuk, berantakan, tak utuh lagi. Ntah apa maksud Tuhan dari ini semua, baru kali ini aku merasakan begitu kecewa, baru ini aku merasakan sakit yang bertubi-tubi, baru ini aku merasakan luka yang lebar menganga nyaris bernanah, baru ini aku merasakan dikhianati yang teramat sangat. Mau marah kepada siapa? Mau berkata ini tak adil? Terlambat!
Aku hanya jadi boneka yang dimainkan ketika rasa bosanmu menyapa. Maaf, menahan sabar pada manusia yang tak pandai menghargai untuk apa? Aku sedikit paham, betapa menyebalkan berada posisi seperti itu. Sabar, hanya bisa sabar. Tetapi mau sampai kapan?
Sabar seharusnya tak semenyebalkan itu, sabar seharusnya tak merugikan diri sendiri. Banyak waktuku yang terbuang, tenaga terkuras, pikiran goyang luluh lantah. Sekali lagi, untuk apa dan mau sampai kapan?
Kemarin aku merasakan diposisi itu, tapi aku mencoba untuk tidak berlarut-larut, sebab aku berpikir, pengabaian menyadarkanku untuk tidak memaksakan keadaan, untuk mengerti bahwa hati punya pilihannya sendiri. Lalu untuk apa mengejar bila dia selalu menghindar? Untuk apa menanti bila dia tak ingin kembali? Untuk apa bertahan bila dia memilih mengabaikan?
Aku seharusnya sadar dari awal.

Aku pernah berjuang melawan egoku sendiri untuk terus memberimu maaf pada sebuah kesalahan yang sama, aku pernah menjadi seseorang yang rela membagi waktuku utnuk menunggu sebuah kabar selepas kamu bersenang-senang tanpaku, aku pernah membatin dan menohok diriku sendiri ketika kudapati kenyataan dibelakangku kamu memutuskan untuk mendua, aku pernah merasa menjadi seseorang yang paling dipenuhi rasa sabar ketika ku ketahui sebuah kenyataan bahwa dihatimu bukan hanya diriku.

Memang aneh rasanya ketika semua hal yang tidak mengenakkan menjadi konsumsi pribadi, menelannya secara utuh dengan pandangan orang lain yang terus baik terhadapmu. Aku melindungimu dan mempertaruhkan nama baikku hanya demi menyelamatkanmu.
Mungkin kamu tak akan pernah menyadari bahwa disampingmu ada seorang yang berdiri dengan begitu tegak dan relanya hanya untuk menopangmu, karena kamu terlalu sibuk memperhatikan seseorang yang sudah jelas masa lalumu, tapi tetap kehadirannya berlabel pencuri dan kamu rela melepas semua yang sudah kita bangun bertahun-tahun.

Aku tak mengerti apa maksud kembali lagi pada masa lalu, untuk apa kembali pada orang yang sudah pernah berkhianat pada kita, untuk apa mengulang kembali masuk ke lubang yang sama.

Untuk kembali pada keadaan "baik-baik saja" sampai saat ini benar-benar tak mudah, ada rasa trauma yang teramat dalam yang akhirnya hidup dibenakku setelah kejadian itu, tapi tak apa, kamu tak usah cemas dengan keadaanku sekarang, menyusun kembali apa yang sudah kamu buat patah kamu buat remuk kamu buat berantakkan itu tugasku sendiri, kamu tak perlu tau bagaimana aku memperbaiki sendiri, biarkan semua waktu yang akan jadi obatku.

Terimakasih banyak sudah meberi satu warna dalam hidupku kemarin, sebelum kamu hadir memang hidupku sudah berwana, jadi saat kamu memilih pergipun aku tak merasakan hidupku hilang semuanya, mungkin kebiasaan yang hilang tapi semoga aku bisa menghilangkan kebiasaan itu.
Ini hanya sekedar mengulang ingatanku sedikit,
2015 silam, saat itu kamu cerita telah dikhianati, lalu aku menyemangatimu sampai kamu semangat kembali. Tapi apa yang ku dapat? Banyak hati ku patahkan demi pria yang ternyata mematahkan hatiku sendiri.
Terimakasih untuk kamu yang dulu pernah buatku terbang berkali-kali.
Terimakasih sudah memberikan keputusan terbaik, walaupun saat itu aku belum mengerti letak kebaikannya.
Terimakasih sudah memperlihatkanku bahwa sebagai manusia kita hanya sanggup berencana dan Tuhanlah yang akan menentukan.
Terimakasih sudah pergi diwaktu yang tepat, aku tak menyesal walau saat itu aku merasa sudah terlambat.
Kalau kamu bisa menemukan bahagiamu, apalagi aku :)Kalau sebelum mengenalmu saja aku bisa bahagia, apa bedanya bahagia jika tanpa kamu?
Karna aku juga sangat pantas untuk bahagia.
Tapi aku tak pernah menyesal pernah sebahagia itu dengan pria yang akhirnya memilih orang lain daripada aku.
Hidup banyak mengajarkanku apa arti tulus sebenarnya, apa arti kejujuran sebenarnya, apa arti menghargai wanita seutuhnya, terlebih jika aku teruskan berjalan denganmu aku bisa luka dalam sewaktu-waktu karna kasarmu yang tak kunjung mereda meski sudah bertahun-tahun kita lewati bersama.

Suatu saat pasti kamu akan mengerti siapa yang paling mencintaimu dengan utuh.


-AS-

Rabu, 28 Desember 2016

Yang Ku Kenal Sekarang Itu Bukan Dirimu Yang Dulu

Derasnya hujan seakan mengerti apa yang kusimpan, sesak, bahkan air mata yang jatuh tak tertahan ketika semuanya muncul dipikiranku.
Siapa yang tak inginkan pertemuan?
Siapa yang tak inginkan hubungannya bahagia?
Siapa yang tak inginkan kedua keluarga bisa terima kita dalam kondisi apapun?
Beribu pertanyaan dikepalaku yang sampai detik ini ingin kukemukakan padamu tapi tak bisa.

Kemana kamu yang dulu?
Kemana sikap lembutmu?
Sekarang yang kulihat hanyalah kasar, egois, nada suara yang tinggi, keras kepala, yang kutahu semua itu bukan dirimu yang dulu.

Aku pernah merasakan jarak jauh dan aku memaklumi, tapi padamu, yang terpaut dengan waktu 20menit dari sini apakah harus ku maklumi sama persis dengan ceritaku dulu?
Apa aku hanya tempatmu ketika masa sulitmu datang?
Apa aku hanya tempatmu ketika waktumu kosong?
Dan yang tersayat dari hati ini yang ku tahu aku bukan dianggap keluarga oleh keluargamu setelah setahun lebih aku disampingmu.
Asing, kaku, cemas dan masih banyak sekali yang ku rasa tiap kali berhadapan dengan keluargamu dan benar saja aku "asing" disana.

Kenapa semua sekarang seperti ini?
Kenapa semuanya tak seiring yang ku ingin?
Kenapa ini semua aku yang harus rasakannya?
Sebenarnya tujuanmu itu apa dengan mengenalku?
Tak terhitung jari perubahanmu yang drastis, membuat hati ini kadang tercabik ingin meronta merejam sikapmu yang tak seperti awal ku kenal.

Aku tau semua yang memiliki status pasti menginginkan pertemuan, tapi mungkin tidak denganmu.
Sebuah pertemuan mungkin hal tabu bagimu, terus memintaku untuk selalu mengerti waktumu sulit dibagi, sulit karena tugas, sulit karena sakumu, sulit karena hal-hal lain yang tak bisa ku paparkan setiap kali aku merengek pertemuan.
Dengan semua ini, apakah kamu masih layak menekanku untuk selalu mengerti keadanmu disana?
Bahkan hal kecil seperti bicara padamu banyak sekali halangannya, apalagi sebuah pertemuan? Mungkin jika aku didekatmu akan dirajang setajam omonganmu yang kadang sering membuatku meneteskan air mata setiap kali mendengarnya.
Air mata yang jatuh tiap kali perih itu muncul, sakit memang tapi bagaimana memberitahumu akan hal ini?

Bahagia rasanya melihat pasangan yang bisa diterima oleh keluarga dari pasangannya masing-masing, tidak direndahkan, tidak pula dibandingkan, tapi tak apa mungkin memang aku yang dituntut harus begini sampai nanti kamu sadar bahwa setiap hubungan menginginkan sebuah pertemuan, menginginkan diterimanya kedua dari kita oleh keluargamu bahkan keluargaku.

Berbahagialah abang dengan sekitarmu dan itu bukan dengan
Aku

12:20am, Kamis 29 Desember 2016

Minggu, 07 Juni 2015

Lalu Ucapmu?

"Iya bawel bentar lagi" ucapnya yang sudah tidak terdengar lagi sampai detik ini.
Hey kak, bagaimana kabarmu disana? 
Bagaimana rupamu sekarang? Masih samakah seperti pertama kali kamu menginjakkan kaki dirumah adek? 
Masih samakah nada suaramu yang tidak pernah kasar selama kita kenal? 
Masih samakah tingkahmu yang konyol seperti biasa kita bertemu via telepon? 
Masih samakah hatimu sejak ada perempuan lain yang mengisi karena dipersilahkan masuk olehmu?
Tentu tidak sama ya? Adek paham kok :)

Tentu kamu tau adek disini bertahan sendiri kurang lebih tiga tahun karena punya cita-cita bersamamu.
Tentu kamu paham dengan segala rintangan yang harus kita lewati terlebih jarak yang terpaut jauh dari Kalimantan ke Maluku.
Tentu kamu tau bahwa ini tak akan mudah.

Sudah kamu beri rasa nyaman selama kita kenal.
Sudah buat adek percaya penuh padamu meski jarak pandang kita terbatas.
Sudah buat adek kuat karena harus mematikan ego ketika rasa rindu tak bisa adek tahan.

Adek jahat ya kak?
Sudah menjaga hati selama kamu tinggalkan kota kecil bumi khatulistiwa ini hingga kamu lulus sampai kamu sudah mapan dengan status abdi negara dikota asalmu.
Sudah membentengi diri agar selalu menjaga perasaan adek disni agar tak tergoyah dengan orang-orang yang mencoba mendekat disini meski kamu tak pernah tau.
Sudah mensupport diri sendiri karena orang-orang sekitar adek banyak yang mencibir mustahil bahwa jarak jauh akan berhasil.
Sudah percaya bahwa kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti adek menjagamu dari kejauhan.

Adek masih jahat ya kak?
Menunggumu pulang itu mimpi terbesar adek, seperti katamu "kakak ga bakal tinggal disana dek cuma kalau memang jadi kakak kesana minta izin kedua orang tuamu".
Ucapan itu hanya obat penenang buat adek kah? Racun kah? Atau sebagai senjata bersilat lidahmu kak?
Sampai bisa buat adek percaya, adek pegang omonganmu.
Tapi apa?

Hancurnya hati adek tak akan bisa kamu pahami, karena kamu tak merasa sakitnya berjuang sendiri sementara kamu disana dengan perempuan lain, kamu tak merasa apapun sudah adek kalahkan termasuk ego sendiri demi kita bisa sama-sama, kamu tak merasa dihempas setelah ± 3 tahun kita kenal, dan kamu tak merasa pipiku selalu basah ketika merapel namamu dalam shalat malamku, meminta-Nya agar suatu hari usaha kerja keras kita ini bisa membuahkan hasil yang manis, tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi rasa rindu yang memuncak, tidak ada lagi batas yang menghalangi, tidak ada lagi derai airmata yang jatuh ketika ego harus dimatikan.

Kak, ntah apa yang ada dipikiranmu sekarang.

Adek sudah berjanji untuk tidak menulis lagi tapi kamu yang membuat ini semua.
Kamu mengataiku dengan "pikiranmu kalau mau maju ya harus ambil langkah ini dek, jarak kita terlalu jauh"
Tanpa sedikit melihat kebelakang dengan apa yang sudah kamu berikan, dengan apa yang sudah adek kalahkan, dengan segala yang sudah adek perjuangkan, demi kamu demi adek demi kita.

Semudah itu dapat pengganti disana?
Semudah itu bisa melupakan semua?
Semudah itu mengatai adek?
Semudah itu terpaut hatimu dengan perempuan lain?

Doa adek ga putus buatmu kak, bahagialah kamu disana, 
kelak kamu akan tau rasanya ditinggal hidup-hidup oleh seorang yang kamu perjuangkan mati-matian, 
kelak kamu akan tau rasa yang kamu beri sudah adek pupuk sampai subur namun kamu beri racun agar mati karena khianatmu disana, dan 
kelak kamu akan tau siapa yang paling mencintai dan setia meski dihadapkan dengan hal yang paling sulit dalam hidupmu.

Pontianak, 7 June 2015
Buatmu yang jauh disana,
M. RIZKI AHMAD ❤

Sabtu, 02 Agustus 2014

Praja Dari Timur.

Ntah kenapa malam ini, aku sudah berjanji pada jari-jariku ini agar tidak mengetik satu demi satu kata di dalam blogku ini. Aku berjanji agak tidak membahas apapun terlebih kamu, PRAJA DARI TIMUR.
Ntah apa yang ada dipikiranmu, tak hanya sekali kamu buat patah, tak hanya sekali kamu buat nanah, tak hanya sekali kamu buat remuk, sampai kamu buat mati anugrah yang diberi Allah ini (hati).

Sudah hampir dua tahun kita sama-sama, meski setahun belakangan ita terpisah kota, kita terpisah waktu.
Apakah jarak akan selalu membuat suatu hubungan terputus?
Apakah komunikasi selalu menjadi yang utama dalam suatu hubungan?
Apakah kepercayaan juga menjadi alasan suatu hubungan?
Apakah rasa rindu juga dapat muncul dalam suatu hubungan ketika tak terlihat mata?
Apakah rasa cemburu membakar suatu hubungan yang dipertahankan lama?
Apakah pihak lain muncul dalam suatu hubungan itu salah?
Dan apakah kata berpisah akan mengakhiri semuanya?!

Kamu harus tau Kakak.. aku disini berjuang demi kamu, demi kita!!
Kalau memang kamu juga bertindak dengan hal yang sama,
aku yakin kita bisa lewat lorong yang gelap ini,
kita hadapi jarak yang memisahkan kita dari WIB hingga WIT.

Aku sempat punya mimpi bersamamu hingga berbagi cerita hidup bersama hingga usia senja,
hingga kita bermusuh dengan JARAK, hingga kita membunuh PERBEDAAN JAM.

Sampai hati kamu membiarkan membiarkan luka yang kamu buat sendiri, yang kamu inginkan sendiri, hingga mau memberitahumu pun aku tahu bagaimana caranya, sampai luka ini harus aku yang berjuang sendiri agar sembuh ntah butuh berapa lama. Bukan hak ku menyalahkan waktu, bukan hak ku menyalahkan keadaan, tapi wajar jika hati yang sudah kutaruh padamu jika bukan kamu yang merusaknya hati ini tidak akan seperih ini, tak akan tersususn kata demi kata seperti ini.

Bukan hanya sekali kamu buat luka yang sudah hampir kering kamu buat bernanah lagi dengan segala tingkahmu, dengan segala egomu.
Maaf, tapi ini yang aku rasa, jika memang kamu anggap ini berlebihan itu terserah padamu anggap saja "perasaan adek aja tuh" kata yang selalu kamu bilang untuk menutupi semua.

Ntah apa yang terjadi ditempatmu sana sampai membuatmu manouver seperti ini, apakah ada orang lain disana hingga kamu seperti ini?? ahh ntah lah.. aku percaya padamu sampai saat ini meski kadang rasa jenuh, capek, muak dengan sikapmu yang dalam beberapa hari ini kau buat menjadi pemicu munculnya pikiran-pikiran yang tak wajar buatmu disana.

Mungkin banyak orang harus merasakan terluka terlebih dahulu untuk bisa menulis..
Mungkin begitu pula denganku..
Mungkin kamu alasanku untuk bisa lancar menulis..
Terima Kasih
PRAJA DARI TIMUR

Jumat, 23 Mei 2014

Selebihnya saya yakin kamu pasti pulang!!

Aku sering menemuimu di sepertiga malam, meminta pada-Nya agar kamu baik-baik saja disana. Semua hal yang kamu minta, semampuku ku perjuangkan. Segala hal yang ku lakukan tak lain untuk membuatmu menjadi tenang. Karena jauh didalam hati, aku tak ingin rasa yang tumbuh ini tiba-tiba mati. Karena kesepian akan datang memeluki. Dan aku tak mau semua itu terjadi, kepadamu, kepadaku, kepada kita.


Apa yang kurasa selalu ku jaga. Agar rasa ini selalu bisa menghangatkan dada. Agar rasa ini tak pernah membiarkan air mata mendekat. Dan semua hal yang membuatmu tertawa selalu kuiringi dalam doa. Selalu ku jalankan dalam langkah-langkah lelah, meski tertatih, meski letih. Untuk keutuhan kita aku tak pernah menginginkan duka.


Aku tak lagi ingin mempersalahkan apa saja yang sudah kamu buat patah, tidak juga apa saja yang sudah terlanjur sakit. Hanya saja yang perlu kamu tahu, yang kamu mainkan bukan hal yang sepatutnya dipermainkan dan apa yang kamu tinggalkan bukan hal yang semudah itu kamu tinggalkan.

Aku hanya tak mau mengira-ngira, jika pada akhirnya yang ku tahu kamu hanya sekedar iba, bukan rasa yang seharusnya tumbuh secara alami. Bagimu mungkin mudah, seharusnya bagiku juga. Karena menurut benarmu kita tidak pernah ada apa-apa. Tapi bagaimana dengan segala hal yang sudah terbiasa menjalari setiap detik bersama? Apa mau mu sebenarnya? Semua yang sudah kamu buat patah ini apa bisa kamu perbaikinya sama seperti semula? Masih juga aku yang harus menopangnya, mengobatinya samapi sembuh meski berbekas!

Jangan jadikan nyamanku untuk amanmu menyakitiku seperti waktu itu saat kamu masih disini, jangan jadikan tenangku untuk senangmu menyakitiku. Kamu terlalu sederhana untuk melukaiku dengan cara yang sempurna, karena semua pedih yang tercipta adalah pedih yang tak pernah kukira.

Jika yang kupirkan ini salah, beritahu aku.
Jika kita masih bisa sama-sama jangan biarkan aku berjuang sendiri.
Jarak ini jauh, aku bukannya hendak mengeluh, tapi terlalu sebentar kamu disini.
Cepat pulang pipi tomat.

Senin, 17 Februari 2014

30 Minggu dan itu..... Tanpamu!!!!

Aku terbangun seperti biasanya, hanya saja ini bukan hari kuliah, namun bangun ditengah malam seperti ini sudah sering terjadi pada diriku sendiri sejak dibangku kuliah. Mataku berkunang-kunang, aku menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam disana.

Sudah hampir tanggal 20, seberapa pentingkah tanggal dua puluh? .... hmmm ya memang tidak penting bagi yang tidak mengalami hal ini. sungguh aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang selalu ku kejar. Sekali lagi aku masih sendiri disini, bermain dengan masa dimana kamu masih disini, dikota ini.

Ada apa memangnya dengan tanggal 20? Iya dua puluh July duaributigabelas, hampir 31 minggu sudah kamu tinggalkan kota kecil ini, kejadian itu memberiku pelajaran, sampai aku tahu rasanya perpisahan, aku tahu rasanya melepaskan diri dari segala hal yang sebenarnya tak ingin kutinggalkan, aku tahu rasanya ditinggalkan, aku tahu rasanya menahan rindu yang belakangan ini sering memuncak namun tak tahu harus bagaimana aku jelaskan padamu dikota Tidore sana, sampai akhirnya aku tahu bagaimana masa lalu setidaknya sebagai sebab, kamu yang dulu kumiliki sekarang tak bisa lagi kugenggam dalam jemari.

Kita berpisah, iya berpisah demi pendidikan, dan asal kita pun berbeda, kamu nun jauh di bagian Indonesia Timur dan aku bagian Indonesia Barat, sungguh diluar dugaan, namun hati selalu mencari zona nyamannya, mau sejauh apa kamu pergi, tetap hati ini tak pernah lelah untuk terus merapel namamu dihadapan-Nya disetiap sujudku. Maka jangan salahkan, setiap kali aku melangkahkan kaki dibandara semua ingatanku tergambar pada tanggal 20 July siang itu, seragam dinas, ransel dan tas lainnya, hingga ucapan terakhir darimu, semua tergambar jelas, tanpa cela, tanpa cacat, sempurna.

Ternyata hari begitu cepat, setengah tahun sudah kamu meninggalkan kota kecilku ini, dan sudah tak terhitung lagi berapa frasa kata yang terucap untukmu didalam doa. Salahku, yang terlalu menganggapmu serius akan semua sikapmu. Salahku, yang terlalu perasa. Salahku, yang selalu menganggap lebih padahal mungkin hatimu tak merasakan apapun. Salahku, yang mempersilahkanmu masuk tanpa permisi disini (hati) namu kamu kembalikan dalam keadaan patah waktu itu. Tapi sudahlah, mungkin memang ini keinginanmu, memang ini tujuanmu datang padaku lalu kamu tinggal pergi tanpa tahu lukanya sedalam apa, tanpa perduli sakitnya seperti apa. Sudahlah, akan kuperbaiki ini sendiri, sebisaku, semampuku, ntah akan memakan waktu berapa lama.

Setelah perpisahan itu, hari-hari yang kulalui masih sama, aku masih mengerjakan rutinitasku, tapi kali ini semua berbeda, tak ada lagi kamu yang dulu, tak ada lagi kita yang dulu. Memang sudah sewajarnya semua hal aku kerjakan sendiri, namun kadang hati ini menjerit ketika yang kulintasi adalah jalan yang pernah kita lewati berdua. Yah.. namanya kenangan pasti punyanya masa lalu, tapi tetap punya temapat tersendiri dihati yang mulai bergeak kedepan.

Hidupku tak lagi sama, hanya saja aku masih berjuang untuk memperjuangkan kita meski kita terpisah jarak, meski kita beda dari mereka pada umumnya yang menganggap pertemuan adalah hal yang biasa, tak berharga. Aku masih disini jalani hariku, masih menjadi diriku yang dulu sejauh kamu mengenalku, hatiku masih berpihak padamu, dan jiwaku masih melekat ditubuhku, dan yang aku ragu.. apakah aku masih disitu (dihatimu) ? Tapi masih ada yang kurang dan berbeda ... tanpamu.

Aku benci harus jujur mengenai ini, bahwa sosokmu selalu menjadi sebab perasaan rindu tak pernah sesat saat menemui jalan pulang.

Aku sibuk menghitung hari, setiap tanggal 20 ditiap bulannya, lau kebulan-bulan berikutnya. Tetaplah begini sampai kita memang digariskan untuk bertemu.

Kakak, banyak rasa yang dominan yang telah kamu beri hingga adek bisa lancar menulis, terutama rasa yang kamu patahkan waktu itu :)

Untukmu, 20 Juli 2013
Selamat menyelesaikan Laporan Akhirmu
Jika kamu merindukan kita yang dulu, akupun juga begitu.